Pagi yang masih
buta, tetesan embun terasa segar menitik dibalik dedaunan. Ami terbangun dari
tidur lelapnya, suara jam weker terdengar memekakan telinganya. Meski mata
masih terpejam, ami mencoba menggapai sebuah meja kecil di pinggir tempat
tidurnya, mencoba meraih jam weker yang masih nyaring berbunyi. Berhasil di
raih, jam weker langsung di banting ami. Prakk..jam weker langsung pecah
berantakan, namun sayang suaranya masih terus nyaring berbunyi sampai beberapa
menit sebelum benar-benar mati. Ami kembali lelap dalam tidurnya, sampai
beberapa menit kemudian…
“ Oh my god, hari
ini aku ada janji ! gawaaaattt…aku bisa kesiangan neehh !” Teriak Ami sambil menyingkirkan selimut yang
membalut hangat badannya , buru-buru meraih handuk, berlari menuju kamar mandi.
Mengenakan t’shirt dan celana jeans tanpa riasan, ami buru-buru keluar rumah.
Gak sempat sarapan,
ami langsung tancap gas. Terbayang dalam pikirannya gya sudah karatan nungguin
dia, pukul 06.00 mereka janji menemui seseorang yang sebenarnya ami pun belum
mengetahui, gya merahasiakan orangnya. “Hah gya, kalau bukan karena mu males
gue musti bangun pagi-pagi buta kaya gini.” Gerutu ami dalam hati.
Sampai di sebuah pertigaan
jalan yang dijanjikan, ami kelingkungan. Gya tak Nampak disana.
“kemana anak itu ?
katanya janji ketemu disini.” Ungkap ami sambil celingukan ke kanan kiri. Ga
ada orang disana, gak ada orang yang bisa ami tanyai.
“Gya, dimana sih lo
?” gerutu ami sambil meraih handphone dari balik tasnya.
Beberapa kali di
hubungi, yang menjawab hanya suara oprator ponsel bahwa gya tak dapat di
hubungi dan di luar jangkauan. “Gile..kemane tu anak, teganya ninggalin gue !”
Ami uring-uringan, sambil langsung tancap gas balik ke tempat kosannya.
“awas kalau entar
ketemu, gya !” gerutu ami, dengan wajah yang sedikit jengkel.
Kemana sih gya,
ketemu sama siapa ? tanda tanya besar dihati ami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar