Siang kembali
berganti malam, matahari berganti rembulan, saat sebagian orang mulai terlelap
dengan mimpinya masing-masing. Namun tidak dengan gya, jam dinding kamarnya menunjukan pukul 02.00
pagi, matanya tak kunjung terpejam, ngantuk tak kunjung menghampirinya. Lamunannya
membawa ia menerawang kealam bawah sadar. Kejadian tadi siang membuatnya tak
henti untuk berfikir, “ benarkah jalanku ?” pikirnya.
Menghela napas
panjang, gya kembali merebahkan badannya, namun tak jua matanya terpejam,
“Astaghfirullahaladzim.” Beberapa kali gya mengucapkan lapadz itu, ada semacam
beban kegundahan yang ingin ia lepaskan.
Berjalan menuju kamar
mandi, gya segera berwudhu, Segera melaksanakan shalat istikharoh, bergelut
dengan do’a-doanya memohon petunjuk kepada sang khalik, akan jalan yang sedang
di tempuhnya. Benarkah keputusannya ?
Beberapa jam gya
bergelut dengan shalat dan do’a-do’a..sampai tak sadar terlelap dalam dzikir
dan berbalutkan mukena, sampai kumandang adzan subuh di masjid sebelah
rumahnya. Gya terbangun, kembali berwudlu dan melaksanakan shalat subuh.
Cinta, cinta apa
yang sedang ku jalani. Seperti cinta kebanyakan orangkah, atau ada pengecualian
denganku.
Cinta, seperti
teman-teman kuliahnya yang sedang memadu kasih, pergi berjalan-jalan, nonton,
makan-makan.
“Sungguh beda dengan
perjalanan cintaku.” Gumam gya lirih. Semestinya ini memang cinta yang hakiki.
Cinta tanpa memandang apapun, harta, tahta atau strata sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar