Jumat, 21 Juni 2013

gya episode 3



Siang kembali berganti malam, matahari berganti rembulan, saat sebagian orang mulai terlelap dengan mimpinya masing-masing. Namun tidak dengan gya,  jam dinding kamarnya menunjukan pukul 02.00 pagi, matanya tak kunjung terpejam, ngantuk tak kunjung menghampirinya. Lamunannya membawa ia menerawang kealam bawah sadar. Kejadian tadi siang membuatnya tak henti untuk berfikir, “ benarkah jalanku ?” pikirnya.
Menghela napas panjang, gya kembali merebahkan badannya, namun tak jua matanya terpejam, “Astaghfirullahaladzim.” Beberapa kali gya mengucapkan lapadz itu, ada semacam beban kegundahan yang ingin ia lepaskan.
Berjalan menuju kamar mandi, gya segera berwudhu, Segera melaksanakan shalat istikharoh, bergelut dengan do’a-doanya memohon petunjuk kepada sang khalik, akan jalan yang sedang di tempuhnya. Benarkah keputusannya ?
Beberapa jam gya bergelut dengan shalat dan do’a-do’a..sampai tak sadar terlelap dalam dzikir dan berbalutkan mukena, sampai kumandang adzan subuh di masjid sebelah rumahnya. Gya terbangun, kembali berwudlu dan melaksanakan shalat subuh.
Cinta, cinta apa yang sedang ku jalani. Seperti cinta kebanyakan orangkah, atau ada pengecualian denganku.
Cinta, seperti teman-teman kuliahnya yang sedang memadu kasih, pergi berjalan-jalan, nonton, makan-makan.
“Sungguh beda dengan perjalanan cintaku.” Gumam gya lirih. Semestinya ini memang cinta yang hakiki. Cinta tanpa memandang apapun, harta, tahta atau strata sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar