Ya, laki-laki
itu..dia lah Rahman, orang yang selama 2 bulan terakhir ini mendiami hati Gya.
“Siapa itu Rahman,
gya ?” ami mendesak gya untuk segera menjelaskan tentang siapa yang selama ini
telah mencuri perhatian, waktu dan pikirannya.
“nanti kamu juga
bakal tau, mi !” jawab gya singkat, membuat ami semakin penasaran.
“baiklah gya, aku
bakal tau tanpa kamu kasih tau !” ami menjawab dengan pasti.
Suatu sore yang
penuh tanda Tanya di hati ami dan penuh rahasia di relung hati gya. Kedua
sahabat karib yang 3 tahun belakangan ini selalu seia sekata, namun tidak
dengan 2 bulan terakhir ini, gya tak lagi seterbuka dulu kepadanya.
Seperti biasa,
pulang kuliah Ami tak langsung pulang, tempat kossan gya selalu jadi tempat
persinggahan.
Turun dari angkot,
nyebrang jalan, berjalan di gang kecil, sampailah Ami di depan kossan gya.
Suasana tampak sepi, hanya terlihat ibu kos sedang duduk santai sambil
selonjoran di bangku panjang di teras kossan.
“Asalamu’alaikum, siang
bu, gya nya ada ?” Tanya Ami mengagetkan bu Broto, si pemilik kos putri. Ya, di
panggil bu broto, karena suaminya yang bernama pak broto heee
“waalaikum’salam,
gya nya belum pulang.” Jawab bu broto singkat. Sudah terkenal seantero kossan putri
bahwa bu broto terkenal irit bicara, dia hanya bicara seperlunya, selebihnya ia
hanya suka merajut dan melotot jika ada hal yang tidak atau kurang ia sukai.
“Kemana bu ?” Tanya ami
kembali, memberanikan diri bertanya.
“Bukan urusan ibu.” Jawab
bu broto sambil berlalu dari hadapan ami.
“Bu, ayo dong, kasih
tau gya kemana ?” Ami menjejeri langkah bu broto sambil bertanya dengan sedikit
memaksa.
“Tanyalah pada
pedagang buku bekas di depan sana, dia pasti tau !” bu broto mengakhiri
pembicaraannya, terdengan suara pintu tertutup dan bu broto hilang dari
pandangan Ami.
“Pedagang buku bekas
?” gumam Ami, penuh tandatanya besar di kepalanya.
Tanpa babibu lagi
ami segera berlari kecil, melewati gang, melewati trotoar, menuju sebuah toko kecil
tempat pedagang buku bekas, tempat ia dan gya hunting buku” yang memang tidak
ia peroleh di perpustakaan.
Dengan sedikit
ngos-ngosan, ami sampai di depan toko buku bekas.
“Asalamu’alaikum,
siang pak !” Ucapan salam Ami ditujukan kepada seorang lelaki setengan baya, Pak
Imran, dialah si pedagang buku-buku bekas itu, wajahnya selalu menyejukan,
penuh ilmu, maklum hari-harinya selalu bergelut dengan buku-buku yang tak
pernah lewat ia baca.
“walaikum salam, eh
ami..mau cari buku apa ?” jawab Pak Imran, ya, maklum Ami dan Gya merupakan
pengunjung setia toko bukunya.
“Eh..enggak pak,
saya bukan mau cari buku. Ada yang mau saya tanyain !” Jawab Ami singkat.
“Oh..silakan, mau Tanya
apa, siapa tau bisa bapak bantu ?”
“Gya pak, bapak tau,
kemana gya ?” Jawab Ami to the point.
Beberapa saat pak
imran terdiam, membuat Ami semakin gelisah. “Ayo dong pak, kasih tau ? kata bu
broto, bapak tau dimana Gya ? ayo dong pak ?” Tanya ami dengan wajah memelas.
“Carilah gya ke
alamat ini !” Pak Imran memberikan secuir kertas kecil bertuliskan sebuah
alamat.
“Makasih banyak
pak..makasih..makasih, bapak baik deh !” jawab ami sumringah.
“Saya pergi dulu ya
pak, asalamu’alaikum.”
“Walaikum’salam.” Jawab
pak imron sambil tersenyum melihat tingkah ami yang sumringan dan segera
berlalu dari hadapannya.
”Jln Harapan, Blok
4.” Ami membaca tulisan di kertas yang dikasih Pak Imran.
“Aku harus menemukan
alamat ini !” Tandas Ami penuh keyakinan, kali ini ia harus berhasil mencari
tau, apa yang selama ini di sembunyikan Gya darinya. “Ada apa di Jln Harapan,
Blok 4 ini. Apa hubungannya dg Gya ?” kembali tanda Tanya besar di benak Ami.