Kamis, 27 Juni 2013

Gya...episode 4



Ya, laki-laki itu..dia lah Rahman, orang yang selama 2 bulan terakhir ini mendiami hati Gya.
“Siapa itu Rahman, gya ?” ami mendesak gya untuk segera menjelaskan tentang siapa yang selama ini telah mencuri perhatian, waktu dan pikirannya.
“nanti kamu juga bakal tau, mi !” jawab gya singkat, membuat ami semakin penasaran.
“baiklah gya, aku bakal tau tanpa kamu kasih tau !” ami menjawab dengan pasti.
Suatu sore yang penuh tanda Tanya di hati ami dan penuh rahasia di relung hati gya. Kedua sahabat karib yang 3 tahun belakangan ini selalu seia sekata, namun tidak dengan 2 bulan terakhir ini, gya tak lagi seterbuka dulu kepadanya.

Seperti biasa, pulang kuliah Ami tak langsung pulang, tempat kossan gya selalu jadi tempat persinggahan.
Turun dari angkot, nyebrang jalan, berjalan di gang kecil, sampailah Ami di depan kossan gya. Suasana tampak sepi, hanya terlihat ibu kos sedang duduk santai sambil selonjoran di bangku panjang di teras kossan.
“Asalamu’alaikum, siang bu, gya nya ada ?” Tanya Ami mengagetkan bu Broto, si pemilik kos putri. Ya, di panggil bu broto, karena suaminya yang bernama pak broto heee
“waalaikum’salam, gya nya belum pulang.” Jawab bu broto singkat. Sudah terkenal seantero kossan putri bahwa bu broto terkenal irit bicara, dia hanya bicara seperlunya, selebihnya ia hanya suka merajut dan melotot jika ada hal yang tidak atau kurang ia sukai.
“Kemana bu ?” Tanya ami kembali, memberanikan diri bertanya.
“Bukan urusan ibu.” Jawab bu broto sambil berlalu dari hadapan ami.
“Bu, ayo dong, kasih tau gya kemana ?” Ami menjejeri langkah bu broto sambil bertanya dengan sedikit memaksa.
“Tanyalah pada pedagang buku bekas di depan sana, dia pasti tau !” bu broto mengakhiri pembicaraannya, terdengan suara pintu tertutup dan bu broto hilang dari pandangan Ami.
“Pedagang buku bekas ?” gumam Ami, penuh tandatanya besar di kepalanya.
Tanpa babibu lagi ami segera berlari kecil, melewati gang, melewati trotoar, menuju sebuah toko kecil tempat pedagang buku bekas, tempat ia dan gya hunting buku” yang memang tidak ia peroleh di perpustakaan.
Dengan sedikit ngos-ngosan, ami sampai di depan toko buku bekas.
“Asalamu’alaikum, siang pak !” Ucapan salam Ami ditujukan kepada seorang lelaki setengan baya, Pak Imran, dialah si pedagang buku-buku bekas itu, wajahnya selalu menyejukan, penuh ilmu, maklum hari-harinya selalu bergelut dengan buku-buku yang tak pernah lewat ia baca.
“walaikum salam, eh ami..mau cari buku apa ?” jawab Pak Imran, ya, maklum Ami dan Gya merupakan pengunjung setia toko bukunya.
“Eh..enggak pak, saya bukan mau cari buku. Ada yang mau saya tanyain !” Jawab Ami singkat.
“Oh..silakan, mau Tanya apa,  siapa tau bisa bapak bantu ?”
“Gya pak, bapak tau, kemana gya ?” Jawab Ami to the point.
Beberapa saat pak imran terdiam, membuat Ami semakin gelisah. “Ayo dong pak, kasih tau ? kata bu broto, bapak tau dimana Gya ? ayo dong pak ?” Tanya ami dengan wajah memelas.
“Carilah gya ke alamat ini !” Pak Imran memberikan secuir kertas kecil bertuliskan sebuah alamat.
“Makasih banyak pak..makasih..makasih, bapak baik deh !” jawab ami sumringah.
“Saya pergi dulu ya pak, asalamu’alaikum.”
“Walaikum’salam.” Jawab pak imron sambil tersenyum melihat tingkah ami yang sumringan dan segera berlalu dari hadapannya.
”Jln Harapan, Blok 4.” Ami membaca tulisan di kertas yang dikasih Pak Imran.
“Aku harus menemukan alamat ini !” Tandas Ami penuh keyakinan, kali ini ia harus berhasil mencari tau, apa yang selama ini di sembunyikan Gya darinya. “Ada apa di Jln Harapan, Blok 4 ini. Apa hubungannya dg Gya ?” kembali tanda Tanya besar di benak Ami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar